SENI MENJADI PEDULI BANGET
Dewasa ini menjadi peduli banget itu bikin cape banget ya. Belum tentu orang lain juga peduli, belum lagi dimanfaatin, dimanipulasi, ditinggalin. Aduh-aduh kesannya serem banget ya menjadi orang yang peduli banget. Kalau begitu, lebih baik jadi bodo amat dong ya? lebih sehat mental, minim kecewa. Ga ada untungnya jadi orang yang peduli banget. Biasanya yang ngomong begini orang-orang yang baru saja patah hati (lah kok malah curhat).
Hampir setahun yang lalu, aku mengucapkan dengan tegas "aku gamau jadi orang yang peduli, aku jera mencintai, aku gamau pake perasaan lagi". Kalau diingat-ingat sakit banget sih, sampai terucapkan kata-kata itu. Tapi nyatanya, kalau aku bukan perasa mungkin aja prosesku untuk pulih tidak akan sampai ditahap hampir pulih seperti saat ini. Kalau bukan perasa mungkin dunia psikologi sudah kutinggalkan jauh-jauh hari.
Oiya aku lulusan S1 Psikologi, dan sekarang sedang melanjutkan kuliah profesi di salah satu Universitas Katolik ternama di Jawa Tengah. Tebak dimana? hehehe.
Merasa itu hal yang semua manusia bisa lakukan. Lalu, mengapa ada orang yang bodo amat dan ada orang yang peduli banget?. Hal yang membedakan adalah kemampuan untuk memberikan makna, effort untuk mendefinisikan, keinginan untuk memusatkan perhatian, serta mengekspresikan stimulus/data yang panca indra kita tangkap dari sekitar. Artinya, peduli banget maupun bodo amat bukan sekedar sifat tetapi merupakan pilihan atau bisa saja trauma respons (kita akan bahas perihal trauma respons secara terpisah di halaman-halaman berikutnya ya). Menjadi perasa, lebih dari sekedar merasa. Seseorang yang perasa adalah seseorang yang peduli banget, sekaligus seseorang yang memiliki kemampuan untuk memaknai, mendefinisikan, mengekspresikan, serta memilih untuk memusatkan perhatian kepada sekitar lebih dari kebanyakan orang.
Terdengar lebih ramah bukan?. Barang hanyalah barang bagi non-perasa, tapi bagi seseorang yang perasa barang bisa berarti kenangan manis, bisa berarti penghargaan, bisa berarti cinta yang mendalam. Apalagi kehidupan, kehidupan di mata seorang perasa bukan hanya sekedar rutinitas yang berulang, hidup bukan sekedar hari-hari yang terlewati, bukan sekedar waktu yang nanti akan berhenti, hidup jauh lebih berarti daripada itu.
Jika menjadi perasa membuatmu ditolak di lingkungan sosial, membuatmu ditinggalkan, membuatmu menyalahkan diri sendiri, mari melihat beberapa kemungkinan. Apakah kamu berada di lingkungan yang tidak tepat?, apakah ekspresi perasaanmu berbeda dengan ekspresi kebanyakan orang disekitarmu, apakah ekspresi tersebut merugikan orang lain?. Jika sebatas berbeda, tidak merugikan, atau mungkin masalahnya hanya karena kamu berada di lingkungan yang tidak sesuai. Aku pikir, tidak ada yang perlu memaksa diri untuk menjadi bodo amat, misterius, maupun berusaha menjadi orang yang disukai oleh semua orang. Tetaplah menjadi otentik.
Love,
Gita Grecia
Komentar
Posting Komentar